Jakarta Walking Tour Yang Pertama!

Haloo.. hari ini saya mau share mengenai Jakarta Walking Tour (“JWT”, rebranded dari “Jakarta Free Tour”/JFT), yang pertama kali dilaksanakan tanggal 22 Oktober 2017 kemarin.

Ide Pertama

Sebagaimana sudah saya share disini, awalnya saya ingin membuat suatu walking tour yang bisa membantu kita semua untuk lebih mengenal Jakarta.  Saya ingin memberikannya secara gratis, karena pada dasarnya saya suka jalan-jalan dan bercerita, jadi disini saya hanya ingin sharing saja tempat-tempat menarik di Jakarta yang bisa kita kunjungi bersama.

Rebranding

Dari tour pertama kemarin, ada beberapa masukan dari para peserta bahwa nama “Jakarta Free Tour” agak kurang tepat karena kita harus membayar tiket masuk ke museum-museum yang kita kunjungi (meskipun tiketnya sangat murah.. hanya 1000-5000 Rupiah saja!), dan juga harus membayar makan siang masing-masing. Meskipun maksud saya “free” disini adalah tidak ada biaya yang harus dikeluarkan untuk jasa saya sebagai arranger/quasi guide* dari tour tersebut, tapi menurut saya masukan tersebut masuk akal karena bisa mislead orang-orang yang hendak join tour tersebut.

*quasi guide karena saya belum qualified untuk disebut sebagai guide beneran hehehe

Akhirnya terpilihlah nama Jakarta Walking Tour sebagai nama yang lebih tepat untuk tour yang saya laksanakan ini.

JWT Pertama: Kemerdekaan Indonesia

Ide JWT Pertama ini didapatkan ketika pada suatu malam saya bersama seorang teman sedang duduk-duduk di Monumen Proklamasi. Sebagai sesama penikmat sejarah, saya dan teman saya tersebut berdiskusi mengenai semangat para pendahulu kita dalam menggapai kemerdekaan. Kami juga berdiskusi bagaimana Tugu Petir yang terdapat di area Monumen Proklamasi melambangkan harapan para pendahulu kita agar Indonesia menggelegar seperti petir di dunia. Kami pun merefleksikan kondisi saat ini, apakah kami, dan generasi muda Indonesia lainnya masih memiliki semangat yang sama, atau bahkan mendekati para pendahulu kita tersebut?

Kami pun menyadari bahwa bahkan banyak generasi muda yang tidak hapal atau paham betul sejarah kemerdekaan.. Sehingga semangat tersebut mungkin sudah hilang di masa sekarang.

Teman saya kemudian menyarankan, karena dia tahu ketertarikan saya dalam dunia pariwisata, agar dibuat walking tour dengan tema kemerdekaan Indonesia. Dan saya pun langsung menyambut ide tersebut dengan semangat dan mulai menyiapkan konsep dan mencari peserta yang tertarik untuk berpartisipasi.

Bahagianya, teman-teman saya yang lain menujukkan ketertarikan luar biasa dengan inisiatif ini! Dengan semangat namun sedikit deg-degan karena takut mengecewakan.. saya pun mulai mempersiapkan tour ini. Awalnya saya takut walking tour tidak cocok untuk dilaksanakan di Jakarta karena kondisi udaranya yang panas dan masyarakatnya yang terbiasa menggunakan kendaraan kemana-mana. Namun nyatanya, syukur alhamdulillah JWT pertama berhasil berjalan dengan baik dan sangat menyenangkan.

Ke depannya saya ingin membuat lebih banyak lagi tour dengan tema-tema seputar sejarah, seni dan budaya Indonesia yang banyak terdapat di Jakarta.

Kenapa penting bagi kita untuk mengetahui sejarah Kemerdekaan Indonesia?

  • Untuk mengingatkan perjuangan pendahulu kita dalam meraih kemerdekaan;
  • Mengingatkan kita semangat memperbaiki diri dan keluar dari masa sulit penjajahan yang dimiliki oleh para pejuang kemerdekaan. Apakah kita juga memiliki semangat yang sama saat ini?
  • Meningkatkan nasionalisme kita, menjadi bangsa yang dijajah tidaklah mudah, dan cara menghindari hal tersebut terulang lagi adalah dengan menjadi bangsa yang kuat dan tidak mudah dipecah belah!

Peserta Yang Hadir di JWT Pertama

Saya sempat kaget dan deg-degan ketika menyadari banyaknya peminat JWT yang pertama ini! Alhamdulillah semuanya kooperatif, suportif dan menyenangkan. Saya salut dan terima kasih sekali kepada para peserta, dari Ibu2 sampai anak balita, yang rela berpanas-panasan dan kelelahan berjalan untuk mengikuti tour ini. Dukungan teman-teman semua sangat berarti dan membuat saya lebih semangat dalam mempersiapkan JWT selanjutnya. Love you all!!

 

Rute

  • Museum Joang ‘45
  • Menuju Museum Perumusan Naskah Proklamasi (melewati Masjid Cut Meutia (450 m), Tugu Kunstring (500 m), Museum Jenderal AH Nasution (450 m) dan Taman Suropati (750 m))
  • Museum Perumusan Naskah Proklamasi
  • Menuju Jalan Surabaya (1,2 km)
  • Lunch, coffee dan sholat di Jalan Surabaya

Sebenarnya kami berencana untuk meneruskan ke Monumen Proklamasi setelah lunch di Jalan Surabaya. Namun karena masih ada acara Hari Santri di area Monumen Proklamasi, terpaksa kami membatalkan rute terakhir tersebut.

Museum Joang ’45

Jl. Menteng Raya No.31, Menteng, Jakarta Pusat,

Tiket Masuk: Dewasa Rp5.000, Anak-anak Rp2.000

Museum ini terletak di dalam Gedung Joang 45 yang awalnya merupakan bangunan Schomper Hotel yang dibangun sekitar tahun 1920-1938, yang dikelola oleh L.C. Schomper, seorang warga keturunan Belanda. Ketika pendudukan Jepang, hotel ini diambil alih oleh Ganseikanbu Sendenbu (Departemen Propaganda) dan kemudian dikenal sebagai ‘Gedung Menteng 31’.

Gedung ini menjadi markas program pendidikan politik yang diadakan bagi sejumlah tokoh pemuda yang berperan di era kemerdekaan, antara lain Sukarni, Chaerul Saleh, A.M Hanafi dan Adam Malik. Mereka lebih dikenal sebagai ‘Pemoeda Menteng 31’, yang menjadi aktor dibalik penculikan Soekarno, Hatta dan Fatmawati ke Rengasdengklok sehari sebelum kemerdekaan. Tokoh-tokoh pemuda tersebut dibina oleh Soekarno, Hatta, Moh. Yamin, Sunaryo dan Achmad Subarjo.

Di museum ini dipamerkan berbagai lukisan, diorama, mobil-mobil tua yang penuh sejarah. Kami menghabiskan waktu sekitar 2 jam di museum ini, mulai dari menjelajahi setiap pameran dengan diberikan penjelasan oleh petugas yang berjaga, menikmati film perjuangan dan tidak lupa foto-foto untuk kenang-kenangan 🙂

Museum Perumusan Naskah Proklamasi

 Jl. Imam Bonjol No.15, Menteng, Jakarta Pusat

Tiket Masuk: Dewasa Rp2.000, Anak-anak Rp1.000

Museum ini terletak bekas kediamanan Laksamana Tadashi Meida, tempat dimana Naskah Proklamasi dirumuskan. Museum ini dijaga dengan baik dan dilengkapi dengan permainan-permainan digital yang menghibur peserta anak-anak. Kami belajar banyak mengenai detik-detik perumusan naskah proklamasi di tempat ini, dimana naskah proklamasi dirumuskan oleh Bung Karno dan para pejuang kemerdekaan.

Mesjid Cut Meutia

Bangunan masjid ini merupakan salah satu peninggalan sejarah dari  zaman penjajahan kolonial Belanda, dulunya adalah bangunan kantor biro arsitek (sekaligus pengembang) N.V. Bouwploeg, yang membangun wilayah Gondangdia di Menteng. Sebelum difungsikan sebagai mesjid sebagaimana sekarang, bangunan ini pernah digunakan sebagai kantor pos, kantor Jawatan Kereta Api Belanda dan kantor Angkatan Laut Jepang (1942 – 1945). Setelah Indonesia merdeka, masjid ini pernah dipergunakan sebagai kantor Urusan Perumahan, hingga Kantor Urusan Agama (1964 – 1970) dan sekretariat MPRS.  Baru pada zaman pemerintahan Gubernur Ali Sadikin diresmikan sebagai masjid seperti sekarang.

Cut Meutia

Tugu Kunstring

Awalnya dibangun sebagai kantor  Nederland Indische Kunstkring, perkumpulan pecinta seni yang ada di Batavia, Tugu Kunstring disebut-sebut sebagai awal arsitektur modern di Indonesia setelah Hendrik Petrus, bapak arsitektur Belanda, datang berkunjung pada tahun 1923 dan mengagumi keindahan gedung ini. Pada masa kemerdekaan, bangunan ini sempat dijadikan  Kantor Imigrasi Jakarta Pusat, sebelum akhirnya diambil pihak swasta dan menjadi bangunan rumah makan seperti sekarang.

Tugu Kunstring

Museum Jenderal AH Nasution

Museum ini semula adalah kediaman pribadi dari Jenderal AH Nasution yang ditempati bersama dengan keluarganya sejak menjabat sebagai KSAD tahun 1949 hingga wafatnya pada tanggal 6 September 2000. Di tempat ini pulalah pada tanggal 1 Oktober 1965, terjadi peristiwa G 30S/PKI yang merenggut nyawa putri Jenderal AH Nasution, Ade Irma Nasution, serta ajudannya Kapten Anumerta Pierre Andreas Tendean.

Kali ini kami tidak masuk mempelajari Museum ini lebih lanjut karena tidak sesuai dengan tema Kemerdekaan Indonesia kali ini. Tapi next time mungkin kita bisa buat JWT dengan tema berkaitan sehingga kita bisa mengunjungi Museum ini!

AH Nasution

Taman Suropati

Dalam membangun kawasan Menteng, N.V. Bouwploeg menjadikan Burgemeester Bisschopplein (sekarang dikenal dengan Taman Suropati), sebagai pusat dari kawasan tersebut. Saat ini, di tempat ini juga dapat ditemukan monumen-monumen dari enam negara pendiri ASEAN.

Taman ini juga banyak digunakan untuk kelas musik loh! Sangat menarik untuk diamati sambil menikmati indahnya pepohonan yang ada, atau sekedar olahraga apabila anda tinggal di daerah sekitar.

 

Secara keseluruhan, saya sangat senang dengan JWT pertama, banyak pelajaran yang kami dapatkan mengenai kemerdekaan Indonesia, sambil berolahraga juga dengan jalan kaki dari satu tempat ke tempat lain, dan semuanya lebih sempurna dengan para peserta yang menyenangkan dan lucu-lucu serta begitu bersemangat dan menghargai sejarah Indonesia meski harus lelah berjalan di bawah terik matahari Jakarta.

Tak jarang kami pun berhenti untuk mempelajari berbagai tanaman yang ada di sepanjang jalan Menteng.

Buah Asem

Dan tentu saja, sepanjang jalan dipenuhi dengan gelak tawa dan foto2 🙂

Fun on the road

Setelah lelah berjalan, kami pun menutupnya dengan makan siang yang mengenyangkan di Jalan Surabaya. Sayang sekali toko kopi favorit saya tutup hari itu jadi tidak bisa lanjut menikmati kopi sore disini.

Makan Siang

Terima kasih kepada seluruh peserta dan pendukung JWT pertama! Untuk teman-teman lain, jangan ragu untuk kontak saya apabila tertarik untuk mengikuti JWT berikutnya 🙂

Love,

Dewi

 

Advertisements

consciousness and the importance being conscious in social life

I just realized one thing this morning. Consciousness, or the state of being aware, is unfortunately not possessed by every individual in this world. While actually.. it is one of very important factors to not only to be alive, but also to reach highest potential in social life.

I am not a psychologist or neurologist or other -ist that is related with the study of human brain or behavior. But from my observation and limited knowledge on the subject, we can categorize consciousness to two big groups, i.e. consciousness in term of being physically and mentally awake (as opposed to unconscious, like people in comma condition), and consciousness in term of being attentive and aware of your surroundings.

Some people can be kind and have high empathy, but they can unintentionally hurt or wrong other people if they don’t have the second meaning of consciousness.

It may be a homework to realize and acknowledge that we are unconscious. And as their saying about dead people, unconscious people usually don’t know that they are unconscious, but people surrounded them will know (and hurt occasionally). This homework to realize and acknowledge their situation will be the hard one if they think that they are kind or wise already, and refuse to dig deeper of the consequence of their behavior.

And I think.. this unconsciousness, just like the unconsciousness in the first meaning, is not a permanent attribute to someone’s character.  An ignorant person can be conscious at times, and a highly sensitive person may be unconscious too (for example when they are highly focusing on a thing only..).

What to do when you realize you have been unconscious:

1. be grateful to realize this! now you’re awake;

2. forgive yourself, whatever happened in the past is done, no use to dwell on it; and

3. mend your relationship with the people who are hurt, or fix the condition that you have ruined, due to your unconsciousness. As far about relationship, a simple sincere ‘sorry’ usually works wonderfully!

And how to deal with people who are unconscious in your life?

1. awake them; and

2. if it doesn’t work, asses if their unconsciousness has been poisonous to your life or not (if yes, consider to limit your encounters with them, if not, learn to forgive and accept their unconscious side that you can’t change).

Until next time.

Love,

Dewi

 

PS – featured unrelated photo of me in Sahara because I just miss the place! 🙂