Menu Home

Katakan Ya Saja

Kupandangi dalam-dalam mata indah gadis di hadapanku.

Sudah lima belas tahun kami bersahabat, tidak pernah sekalipun kulihat dia seperti ini.

“Ryn, apa yang harus aku jawab?” Tanyanya lirih.

Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, aku tidak tahu apa yang harus dia jawab.

Bagaimana mungkin aku dapat tahu?

Wanita ini, wanita yang sudah kucintai selama lima belas tahun terakhir, baru saja menanyakan pendapatku soal lamaran dari lelaki lain.. Lelaki lain!

Kugenggam kedua tangannya yang sedingin air es. Matanya yang berkaca-kaca masih menunggu jawabanku.

Aku tak sanggup melihat kedua mata indah itu lagi. Mata yang kuimpikan bertahun-tahun lamanya.

Kutarik napas dalam-dalam dan menunduk.

“Kalau kamu bilang tidak, aku tidak akan mengatakan ya, Ryn.” Lanjutnya.

Ingin sekali aku teriak, “TIDAK! Tidak ada laki-laki lain yang cocok untukmu. Hanya aku, aku yang selalu setia di sampingmu dalam lima belas tahun terakhir. Tidak pernah sekalipun aku meninggalkan sisimu, apalagi berhenti mencintaimu!”

Namun kutelan saja semua kata-kata itu dalam setiap tarikan napasku.

Mungkin aku lelaki pengecut. Tapi aku tidak sanggup mengatakan semua itu. Tidak setelah apa yang kulihat dapat diberikan lelaki itu untuk cinta sejatiku ini. Tidak setelah kulihat senyum manis bahagia sahabatku yang tidak pernah lepas dari wajahnya meski seharipun.

Hanya setahun, hanya setahun saja diperlukan lelaki ini untuk membuatnya bahagia setiap hari serta melamar sahabatku itu!

Setiap harinya sejak mereka berkenalan dan berkencan, sahabatku ini selalu bercerita setiap detail perasaannya tentang lelaki itu. Setiap kejutan yang diberikan lelaki itu. Setiap rasa cinta, bahagia, resah dan gelisah yang disebabkan lelaki itu.

Setiap detail dari hubungan sempurna mereka.

Setiap detail yang membunuh setiap tetes darah dalam tubuh ini.

Namun, kuingatkan diriku kembali, tidak pernah aku lihat sahabatku itu bahagia seperti setahun belakangan ini.

Selama lima belas tahun aku menjemputnya setiap pagi, tidak pernah aku melihatnya wajahnya berbinar-binar dan penuh semangat seperti itu, tak sabar bercerita tentang kencannya semalam dengan si pria kekasih hatinya.

Di satu sisi, sangat kesal sekali aku dibuatnya. Ingin sekali kutonjok saja wajah lelaki itu setiap kali dia muncul di hadapan kami.

Namun, selalu kutahan kepalan tangan ini.

Ya, mungkin aku memanglah pengecut! Tapi entah kenapa jiwaku hanya ingin melihat gadisku bahagia, meski bukan denganku.

Kupeluk tubuh mungilnya erat-erat dan kutarik napas panjang sekali lagi.

Katakan ya saja,” bisikku.

#30DWC #30DWCJilid25 #Day16

Categories: 30DWC

Tagged as:

dewimayangsari

Hello - I love writing random stuff from fiction to mental health to relationship to productivity to travel stories. Hope you can enjoy my writings! :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: